01
Jan
09

matahari

BAB I
PENDAHULUAN

”Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS.As-Syams 91 : 1 -10)
Cahaya (Nur) adalah media pembawa informasi dari langit. Sebenarnya cahaya dan gelombang elektromagnetik (EM) lainnya merupakan bahasa universal yang kita gunakan untuk berkomunikasi dengan makhjluk yang jauh di alam semesta.Cahaya juga merupakan dasar ukuran meter: 1 meter adalah jarak yang dilalui cahaya melalui vakum pada 1/299,792,458 detik. Kecepatan cahaya adalah 299,792,458 meter per detik.Cahaya diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Matahari adalah sumber cahaya utama di bumi. Tumbuhan hijau memerlukan cahaya untuk membuat makanan.Sifat-sifat cahaya ialah, cahaya bergerak lurus ke semua arah. Buktinya adalah kita dapat melihat sebuah lampu yang menyala dari segala penjuru dalam sebuah ruang gelap. Apabila cahaya terhalang, bayangan yang dihasilkan disebabkan cahaya yang bergerak lurus tidak dapat berbelok. Namun cahaya dapat dipantulkan.
Bulan adalah satelit alami Bumi yang berukuran seperempat ukuran Bumi dan beredar mengelilinginya setiap 27.3 hari, pada jarak rata-rata 384,400 kilometer di bawah tarikan gravitasi Bumi. Bulan tidak mempunyai sumber cahaya dan cahaya bulan sebenarnya berasal dari pantulan cahaya Matahari. Dan cahaya ini tidak memantul dari bumi. Tetapi kadang-kadang cahanya dari bumi juga. Jadi cahaya dari matahari langsung sampai ke bulan. Bulan mempunyai diameter 3,476 kilometer dengan gaya gravitasi hanya 0.16 = (1/6) gaya gravitasi bumi. Terbentuknya Bulan dipercaya berasal daripada obyek sebesar Mars yang menghantam Bumi lalu pecah. Inti obyek tersebut menghantam bumi, tetapi lapisan luar Bumi terpelanting dan terperangkap dalam orbit mengelilingi Bumi lalu membentuk Bulan.

BAB II
PEMBAHASAN

“Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita”
(Qs.Nuh 71 : 16)
Sesungguhnya, al-Qur’an itu menurut sifatnya adalah qadrat Allah di alam ini yang mengandung pengertian luas sesuai dengan sifatnya. Al-Qur’an diungkapkan dengan jitu, mendalam dan dapat dipahami oleh orang Arab sejak empat belas abad yang lalu sesuai dengan kemampuan jangkauan akalnya. Juga dipahami oleh orang-orang modern secara aktual, sesuai dengan penemuan ilmiah di seantero dunia ini. Di dalam al-Qur’an banyak kita batasi dengan dua contoh yang berkenaan dengan kisah Nabi Nuh as. Diterangkan dalam al-Qur’an, “Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita” Qs. 71 : 16
Allah menerangkan bahwa matahari adalah bagaikan pelita yang dapat menerangi dengan nyala api yang ditimbulan oleh bahan bakar minyak atau spiritus. Dikatakan bahwa pelita itu adalah sumber cahaya (dapat menimbulkan cahaya dengan sendirinya, bukan memantulkan cahaya yang datang dari benda lain). Ilmu pengetahuan juga menerangkan bahwa matahari adalah planet yang berpijar, memancarkan cahayanya kepada planet-planet lain. Termasuk bulan yang pada waktu malam kelihatan bercahaya, sebenarnya bulan bukan sumber cahaya. Tetapi bulan sebagai pemantul sinar yang datang dari matahari ke planet bumi ini. Tepat sekali istilah al-Qur’an yang mengatakan bahwa bulan itu adalah nur (cahaya) bukan siraaj (pelita), karena bulan adalah benda yang tidak mengeluarkan nyala api, atau dapat dikatakan bahwa bulan adalah satelit bumi yang gelap.
Ayat al-Qur’an sebagai ungkapan perkataan Nabi Nuh sebagai berikut, ‘Dan Allah menumbuhkan kami dari tanah dengan sebaiknya.’ Ayat ini menerangkan kepada kita bahwa Allah menyempurnakan hidup kita ini dari tumbuh-tumbuhan. Maksudnya, kelangsungan hidup kita ini tergantung dari tumbuh-tumbuhan. Adalah sangat menakjubkan sekali bahwa ayat ini sebenarnya menerangkan hakekat ilmiah dan bersesuaian dengan apa yang diterangkan dalam sebuah buku ilmiah menjadi ‘air adalah benda alam yang luar biasa’. Para sarjana biologi menetapkan bahwa tumbuh-tumbuhan adalah kebutuhan primer makhluk hidup seperti hewan, termasuk juga manusia. Bahkan semua bakteri pun dapat hidup dengan memakan tumbuh-tumbuhan atau sari makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Seperti kita makan ikan umpamanya, sebenarnya kita memakan tumbuh-tumbuhan.
Kenapa demikian, karena ikan-ikan besar hidup dengan memakan ikan-ikan kecil atau hewan-hewan kecil lain, demikian seterusnya. Akhirnya jika kita teruskan siklus ini akan sampai kepada tumbuhan sebagai akhirnya. Maka tumbuh-tumbuhan adalah asas kehidupan yang paling tua, setua jenis manusia itu sendiri. Demikianlah keterangan yang dapat kita peroleh dari al-Qur’an dan ilmu pengetahuan yang menerangkan tentang makanan manusia dan unsur-unsur lain yang hidup dari makanan itu.

Ilustrasi Al-Qur’an tentang Matahari dan Bulan
Bagi manusia, Matahari adalah benda alam semesta yang sangat penting. Pada Matahari-lah terletak seluruh nasib tata surya. Matahari-lah mata kisaran semua komet, asteroid, dan planet. Matahari-lah pemancar tenaga seantero tata surya, pengatur dan pengocok perubahannya, pembangkit segala gerak utamanya. Matahari-lah lampu yang paling terang, massa yang paling berat. Matahari-lah penopang kehidupan dan raja seluruh lingkungan kosmik manusia. Kehidupan di Bumi dan kelangsungannya amat tergantung pada “tungku” raksasa itu.

Mengapa Matahari Bersinar?
Tuhan berfirman, “Maha suci Allah yang telah menjadikan dalam alam ini gugusan bintang (galaksi) dan Dia jadikan pula padanya ‘siraaja’ (Matahari) dan bulan yang bercahaya”. (QS. Al-Furqan 25: 61). Lalu dalam ayat lain, “Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai ‘nuur’ dan menjadikan matahari sebagai ‘siraaja’ (pelita)”. (QS.Nuh 71: 16)
Dalam kedua ayat ini Allah menyebutkan secara simbolis bahwa Matahari itu tak ubahnya laksana pelita. Bahkan dalam surat 78 (An-Naba’) ayat 13,

”dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari)” (QS. An-Naba 78:13). Matahari itu disebut “siraajaw wahhaja” yang artinya pelita (lampu) yang sangat kuat nyalanya. Apa ini maknanya?
Perhatikanlah bola lampu listrik. Di dalamnya terdapat kumparan kawat halus yang akan mengalirkan arus listrik. Energi yang ditimbulkan arus listrik itu ‘mengejutkan’ atom-atom dari kawat, lalu elektron-elektron akan loncat ke luar dari orbitnya, membentuk orbit baru, tapi segera kembali lagi ke orbit semula. Di sini peranan energilah yang menyebabkan keluar-masuknya elektron-elektron tersebut. Peristiwa inilah yang kita lihat sebagai cahaya dan panas dari lampu listrik tadi. Lantas, bagaimana dengan Matahari?
Begitu pula Matahari. Bahkan Matahari terbentuk berkat terkejutnya gas-gas antar bintang. Kejutan-kejutan itu membangkitkan energi yang sangat besar dalam bentuk gelombang radio, panas, cahaya, sinar ultraviolet, sinar X, dan sinar gamma.
Matahari adalah sebuah bola gas yang sangat besar. Mengapa disebut bola gas? Karena bentuknya persis seperti bola dan merupakan gumpalan gas-gas yang amat panas. Bahkan pada terasnya, di bawah himpitan timbunan bahan yang tekanannya beberapa juta juta ton pada setiap sentimeter persegi, atom gas Matahari masih memiliki sifat gas sehingga bergerak bebas dan menahan himpitan luar biasa yang ditimpakan padanya.
Jadi jangan dikira, Matahari itu benda padat. Tak ada bagian yang padat di sana. Qur’an menyebutnya “siraaja”. Bisa diartikan pelita. Bisa diartikan api. Semuanya serba gas. Cuma, gasnya lain dengan gas yang ada di Bumi, sebab kerapatannya tinggi sekali. Artinya, sekalipun bahannya terdiri dari gas, namun jarak antar partikel yang berdekatan seolah ‘dempet’. Mampat, begitu.
Tapi mengapa bisa menggumpal menjadi sebentuk bola besar? Padahal yang kita ketahui selama ini ‘kan, sifat gas itu mengisi ruang sebesar-besarnya. Jawabnya, jutaan ton gas-gas yang panas yang membentuk Matahari itu mengalami gaya gravitasi (tarik menarik) sehingga seolah gas-gas tersebut diikatnya. Ada kurang lebih 536 kuadrilyun kilometer kubik gas kelewat panas terkandung di dalamnya. Bobotnya saja mencapai lebih dari dua oktilyun ton atau secara awamnya sebut saja dua milyar milyar milyar ton. Padahal dalam pengertian modern Matahari hanyalah seumpama katak dalam kolam tata surya dan satu diantara bermilyar-milyar bintang berukuran sedang lainnya.
Yang paling menarik adalah bentuk fisik Matahari. Temperaturnya tinggi sekali. Di permukaan saja, temperaturnya 6.000 derajat Celcius. Makin ke dalam makin panas. Bahkan bisa mencapai 15-20 juta derajat Celcius. Akibatnya, semua jenis batuan dan logam tak akan ditemukan di sana. Tak ada yang tahan pada panas setinggi itu. Semua tidak saja mencair, melainkan langsung menguap menjadi gas. Itu sebabnya Matahari tidak padat seperti Bumi. Matahari adalah “siraajaw wahhaja”, pelita/api (gas) yang sangat kuat nyala (energinya). Mengapa? Apa yang menyebabkan demikian bisa terjadi?
Inilah yang Allah jelaskan dengan kata-simbol “tsaqib” (artinya yang membakar) yang tercantum dalam surat 86 (Ath-Thariq) ayat 3:

“…yaitu bintang yang membakar (dirinya sendiri)”. (QS. Ath-Thariq 86: 3)
Bahkan kata “tsaqib” ini tidak hanya berlaku untuk menerangkan proses yang terjadi di dalam teras (inti) Matahari saja. Proses yang sama juga berlangsung pada bintang-bintang lain. Yaitu reaksi nuklir di pusat bintang di pusat bintang (dan Matahari) yang ditandai oleh reaksi pembakaran Hidrogen menjadi Helium, atau dengan kata lain proses fusi atom Hidrogen menjadi Helium. Proses ini “bersaudara dekat” dengan reaksi ledakan bom H, tetapi reaksi nuklir Matahari tertahan dan terkungkung dalam gas elastis di sekitar inti Matahari yang besarnya beribu-ribu trilyun kilometer kubik.
Dalam dunia mikro (renik), setiap fusi merupakan urutan tiga macam benturan antar inti atom. Langkah urutan benturan itu tidak sama besarnya. Dalam kenyataan benturan yang pertama hanya dapat terjadi sekali dalam tujuh milyar tahun, benturan kedua sekali dalam empat detik, dan benturan ketiga terjadi sekali dalam 400.000 tahun. Walaupun jangka waktu benturan pertama dan benturan ketiga itu kelihatannya sangat panjang, tetapi jumlah atom yang ada di dalam Matahari begitu melimpah sehingga tiap macam benturan berulang secara konstan (ajeg) dan memungkinkan fusi tersebut berlangsung secara sinambung.
Pada benturan fusi pertama, duproton –inti Hidrogen yang telah kehilangan elektron pengiringnya- dengan hebat bersatu menjadi Deuterium namanya. Akibat benturan kedua proton itu, laksana bunga api, dua pecahan sisa bahan tadi membawa pergi pusa (momentum) dan muatan listrik yang tidak diperlukan. Satu diantaranya, yakni neutrino, merupakan zarah yang sangat kecil, dalam skala sub atom sekalipun. Zarah ini tidak mempunyai massa maupun muatan listrik dan sangat lambat bereaksi dengan unsur lain. Maka zarah ini langsung menerobos apa saja, dan lolos tanpa meninggalkan noda meninggalkan Matahari, bahkan meninggalkan tata surya. Ya, ibarat bayar pajak sajalah bagi Matahari kepada angkasa kosong dan dingin di sekitarnya.
Sementara itu pecahan lainnya, yakni zarah yang bermuatan positif, atau positron, tidak dapat bergerak jauh melintasi gas yang tebal dan rapat di sekitarnya tanpa menubruk elektron –yakni zarah yang bermuatan negatif. Apabila tubrukan antara positron dan elektron itu terjadi, maka kedua zarah yang berlawanan itu akan saling membinasakan. Mereka musnah, dan mengeluarkan energi yang amat hebat.
Inti deuterium yang dihasilkan pada langkah pertama fusi ini terdiri dari proton dan neutron, yakni gabungan zarah yang massanya hampir dua kali massa proton, tetapi sifatnya mudah bereaksi. Pada kesempatan pertama, deuterium akan segera menangkap dan menelan inti Hidrogen yang bergerak lincah di sekitarnya. Dari perkawinan antara kedua ‘makhluk’ ini, lahirlah unsur baru, yakni Helium-3 yang terdiri dari dua proton dan satu neutron.
Dalam benturan antara deuterium dan inti hidrogen tadi, terciptalah energi radiasi sinar Gamma. Sinar ini gelombangnya pendek sekali, tapi tenaganya serta daya tembus dan daya rusaknya paling kuat diantara seluruh spektrum gelombang elektromagnetik yang ada.
Pada benturan fusi yang ketiga dan terakhir, inti Helium-3 tadi mengatur dirinya untuk menjadi inti Helium-4 biasa, yaitu yang terdiri dari dua neutron dan dua proton. Caranya ialah dengan bergabung bersama zarah Helium-3 lainnya yang juga terbentuk dengan cara yang sama dengan dirinya. Dengan terbentuknya Helium-4 yang relatif stabil ini, berakhirlah proses ‘pembakaran’ inti Hidrogen jadi Helium dengan meninggalkan sisa dua proton. Dua proton sisa ini kemudian akan terpelanting dan akhirnya akan membentur proton lain, dan berfusi (bergabung) membentuk inti deuterium lagi. Dengan demikian proses daur ‘pembakaran’ nuklir itu berulang kembali seperti proses yang telah diuraikan di atas. Demikian Allah menetapkan ‘taqdir’-nya sehingga proses transformasi Hidrogen-Helium itu bisa terus berulang, sampai ‘ajal’-nya.
Masing-masing reaksi fusi tersebut tiap detik mengubah 657 juta ton hidrogen Matahari menjadi 652,5 juta ton abu Helium. Empat setengah juta ton massa yang hilang diubah menjadi sinar Gamma dan neutrino.
Sinar Gamma yang muncul dari jantung Matahari itu pertama-tama diubah menjadi sinar-X (yakni semacam sinar yang panjang gelombangnya antara 2,7 sampai 270 permilyar sentimeter) dan sinar ultraviolet (yang memiliki panjang gelombang antara 270 permilyar sampai tujuh persejuta sentimeter). Kedua sinar ini membentuk elektron atom hingga atom itu mengeluarkan cahaya kasat mata seperti yang kita alami di bumi ini. Dengan cahaya kasat mata inilah kita bisa melihat isi dunia ini. Dalam hal ini patut kita bersyukur, sebab seandainya sinar gamma yang sampai ke permukaan Matahari itu sebagaimana wujud aslinya,. Maka akibat yang akan terjadi adalah menyebarnya sinar maut ini ke seluruh tata surya. Kita pun tak mungkin bisa hidup.
Manfaat matahari
• Matahari mempunyai fungsi yang sangat penting bagi bumi. Energi pancaran matahari telah membuat bumi tetap hangat bagi kehidupan, membuat udara dan air di bumi bersirkulasi, tumbuhan bisa berfotosintesis, dan banyak hal lainnya.
• Merupakan sumber energi (sinar panas). Energi yang terkandung dalam batu bara dan minyak bumi sebenarnya juga berasal dari matahari.
• Mengontrol stabilitas peredaran bumi yang juga berarti mengontrol terjadinya siang dan malam, tahun serta mengontrol planet lainnya. Tanpa matahari, sulit membayangkan kalau akan ada kehidupan di bumi.
Bagaimana Dengan Bulan?
Di sini, lagi-lagi Qur’an tampil memukau para ahli ilmu pengetahuan. Secara tepat Qur’an memberikan ilustrasi yang sangat sederhana, namun berisi nilai ilmiah yang sangat tinggi, yang belum mungkin terjangkau oleh manusia-manusia sezaman dengan Rasulullah.
“Maha suci Allah yang telah menjadikan dalam universe ini galaksi dan Dia jadikan pula padanya Matahari dan bulan yang ‘muniir’

”Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.”(QS.Al-Furan 25: 61).

“Dialah yang menjadikan Matahari bersinar dan bulan bercahaya”. (QS. Yunus 10: 5)
Bulan disebut oleh Al-Qur’an sebagai ‘muniir’, artinya yang bercahaya, atau lebih tepatnya, dikenai cahaya lalu dipantulkan kembali. Sedangkan Matahari bagaikan pelita, artinya memproduksi sendiri panas dan cahaya, kemudian menyinari sekelilingnya.
Dalam kenyataan bagaimana? Memang begitulah yang sebenarnya terjadi. Sebagaimana tadi telah dibahas, Matahari memang memproduksi sendiri panas dan cahaya, lalu menyinari sekelilingnya hingga kita bisa menikmati kehidupan di Bumi. Sedangkan Bulan, sekalipun tampak oleh mata bercahaya, tapi sebetulnya bukan dari dirinya sendiri. Bulan menerima cahaya Matahari, kemudian memantulkannya kembali ke Bumi, hingga mata melihatnya seperti bercahaya sendiri.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Tak dapat disangkal lagi, Qur’an memang betul-betul “kitab kehidupan”, di dalamnya tidak saja memuat ritus-ritus ibadah, dalam arti sempit, melainkan juga punya porsi yang besar di bidang sosial, budaya, sains dan teknologi. Salah satu diantaranya, seperti telah tersinggung tadi, adalah berkenaan dengan Matahari dan Bulan.
Dengan jelas, beralasan, dan tepat Qur’an memberikan gambaran “kelakuan” alam semesta. Masalahnya kini tergantung bagaimana manusia mampu menangkap ‘isyarat-isyarat’ yang disampaikan Qur’an itu dengan segala daya dan kemampuan yang dimiliki. Bagaimana ia mampu membaca (iqra’) tidak saja ayat-ayat Qur’aniyyah, tapi juga ayat-ayat Kauniyyah yang tersebar luas pada alam semesta ini. Keduanya penuh simbol-simbol (ayat) realitas objektif yang selalu menantang manusia meraihnya dengan kekuatan (bisulthaan) akal pikiran yang dianugerahkan Allah pada-Nya, sebagai bukti syukur kita pada kasih sayang-Nya.

”Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur.”
(Qs Luqman 31:31)

http://download.ord.iolo.net/sm/7pro/trial/SystemMechanic7Pro.exe

22
Mei
08

TI dalam Pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan pengabdian kepada masyarakat.

Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi. Tujuan utama Pendidikan adalah memanusiakan manusia, maksudnya menjadikan manusia sebagai manusia yang ideal dalam ruang lingkup sempit maupun luas.

Tanpa pendidikan, maka diyakini bahwa manusia sekarang tidak berbeda dengan generasi manusia masa lampau, yang dibandingkan dengan manusia sekarang, telah sangat tertinggal baik kualitas kehidupan maupun proses-proses pemberdayaannya. Secara ekstrim bahkan dapat dikatakan, bahwa maju mundurnya atau baik buruknya peradaban suatu masyarakat, suatu bangsa, akan ditentukan oleh bagaimana pendidikan yang dijalani oleh masyarakat bangsa tersebut.

Dalam konteks tersebut, maka kemajuan peradaban yang dicapai umat manusia dewasa ini, sudah tentu tidak terlepas dari peran-peran pendidikannya. Diraihnya kemajuan ilmu dan teknologi yang dicapai bangsa-bangsa di berbagai belahan bumi ini, merupakan akses produk suatu pendidikan, sekalipun diketahui bahwa kemajuan yang dicapai dunia pendidikan selalu di bawah kemajuan yang dicapai dunia industri yang memakai produk lembaga pendidikan.

Pergeseran drastis paradigma pendidikan sedang terjadi, dengan terjadinya aliran informasi dan pengetahuan yang begitu cepat dengan efisiensi penggunaan jasa teknologi informasi internet yang memungkinkan tembusnya batas-batas dimensi ruang, kemampuan dan waktu. Penggeseran paradigma tersebut juga didukung dengan adanya kemauan dan upaya untuk melakukan reformasi total diberbagai aspek kehidupan bangsa dan negara menuju masyarakat madani Indonesia, termasuk pendidikan. Oleh karena itu, pergeseran paradigma pendidikan tersebut juga diakui sebagai akibat konsekuensi logis dari perubahan masyarakat, yaitu berupa keinginan untuk merubah kehidupan masyarakat Indonesia yang demokratis, berkeadilan, menghargai hak asasi manusia, taat hukum, menghargai perbedaan dan terbuka menuju masyarakat madani Indonesia.

Sumber ilmu pengetahuan akan tersebar di mana-mana dan setiap orang akan dengan mudah memperoleh pengetahuan tanpa kesulitan. Kondisi ini, akan berpengaruh pada fungsi tenaga pendidik (guru dan dosen) dan lembaga pendidikan akhirnya beralih dari sebuah sumber ilmu pengetahuan menjadi mediator dari ilmu pengetahuan tersebut. Proses long life learning dalam dunia pendidikan informal yang sifatnya lebih learning based dari pada teaching based akan menjadi kunci perkembangan sumber daya manusia. Peranan web, homepage, cd-rom merupakan alat bantu yang akan sangat mempercepat proses distributed knowledge semakin berkembang. Hal ini, secara langsung akan menan.tang sistem kurikulum sifatnya terpusat dan mapan

Seperti teknologi lain yang telah hadir ke muka bumi ini, TI juga hadir dengan dialektika. Selain membawa banyak potensi manfaat, kehadiran TI juga dapat membawa masalah. Khususnya Internet, penyebaran informasi yang tidak mungkin terkendalikan telah membuka akses terhadap informasi yang tidak bermanfaat dan merusak moral. Karenanya, penyiapan etika siswa juga perlu dilakukan dalam menghadang serangan informasi yang tidak berguna.

Masalah lain yang muncul terkait akses yang tidak merata. Hal ini akan menjadikan kesenjangan digital semakin lebar antara siswa atau sekolah dengan dukungan sumber daya yang kuat dengan siswa atau sekolah dengan sumber daya yang terbatas. Hal ini memberikan sinyal adanya kesenjangan digital antar kelompok dalam masyarakat, baik dikategorikan menurut lokasi geografis maupun tingkat ekonomi.

Untuk masalah kesenjangan ini, semua pihak dapat mulai memikirkan program untuk meningkatkan dan memeratakan akses terhadap teknologi informasi di dunia pendidikan. Program dengan membagikan komputer layak pakai ke sekolah-sekolah adalah sebuah contoh gagasan yang menarik. Tentu saja program seperti ini harus diikuti dengan penyiapan infrastruktur lain seperti listrik dan telepon. Pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan melek TI juga pintu masuk lain yang perlu dipikirkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap potensi TI, yang pada akhirnya diharapkan meningkatkan kesadaran. Tanpa kesadaran, pemanfaatan TI tidak optimal, dan yang lebih mengkhawatirkan lagi sulit untuk berkelanjutan Dalam kaitan ini, program untuk peningkatan kesadaran yang berkelanjutan seperti pendidikan berkelanjutan lewat berbagai media dan lomba website sekolah merupakan sebuah alternatif yang perlu dipikirkan.

TI bukanlah obat mujarab untuk semua masalah. Karenanya, pemanfaatan TI tidak bisa bebas konteks. Analisis kebutuhan dan pemahaman terhadap potensi yang ditawarkan oleh TI menjadi sangat penting. Lebih dari itu, pemanfaatan TI juga harus diikuti dengan penyiapan aspek lain, seperti sumber daya finansial dan manusia. Tanpanya, keberlanjutan dalam pemanfaatan TI dalam mendukung proses pembelajaran dalam rangka memajukan pendidikan nasional menjadi tidak optimal. Terakhir, dengan atau tanpa TI, sudah seharusnya dunia pendidikan Indonesia selalu berbenah untuk selalu menjadi lebih baik demi anak-anak bangsa. Hal ini dapat dilakukan, di antaranya, dengan membuka akses seluasnya-luasnya untuk mengikuti pendidikan dan meningkatkan iklim demokratis dalam proses pembelajaran dengan memberikan kendali yang lebih besar kepada siswa.

22
Mei
08

resensi

RESENSI BUKU

1. Identitas buku

Judul buku : Menjelajah keluasan langit menembus kedalaman Al Quran

Karya : T.Djamaluddin

Tipe : Fiksi Ilmiah

Editor : Dini Handayani

Penerbit : Khazanah Intelektual

Tahun terbit : Maret 2006

Jumlah halaman : 134 halaman

Ketakjuban manusia akan benda langit dan alam semesta bisa melahirkan berbagai macam budaya. Manusia berpikir tentang manfaat fenomena alam dan keselamtan sebuah korelasi dua fenomena yang mungkin tak perlu saling mengait tapi berlangsung dengan irama waktu yang sama atau hampir sama. Berbaga peninggalan seperti Stonehenge di di Inggris dan Piramid di Mesir dirancang dengan memperhatikan regularitas fenomena langit. Manusia di berbagai belahan bumi bisa dan pernah menganggap benda langit sebagai dewa. Nama dewa yang melekat pada planet terang, rasi bintang, dan matahari merupakan rekaman jejak perjalanan persepsi manusia di planet bumi terhadap benda langit.

Buku dengan judul Menjelajah keluasan langit menembus kedalaman alquran ini juga akan menambah untaian ungkapan pemahaman alam semesta.. penulis mengajak kita membaca fenomena astronomi tidak semta dengan bahasa sains, tapi juga dengan bahasa al Quran, atau membahasakan sebagian ayat al Quran ke dalam bahasa sains astronomi.

Rambu-rambu langkah keberanian penulis terdapat pada penempatan kebenaran ayat al Quran dalam kemutlakannya. Di sini dibahas pula fenomena astronomi tentang penciptaan alam semesta, penciptaan tata surya hingga kiamat atau kehancuran bumi, kehancuran tata surya, kehancuran alam semesta, pencarian kehidupan di luar planet bumi, penentuan waktu ibadah shalat, kalender syamsiah, dan kalender komariyah.

Buku besar alam semesta masih terbuka bagi makhluk cerdas planet bumi yang senantiasa dapat membaca dengan berbagai indra, qalbu, imajinasi, dan bahasa akal.

2. Intisari buku

Islam dan ilmu pengetahuan

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

Dengan mengacu pada ayat tersebut kita mencoba menjelajah sekilas lintas keluasan langit sambil menembs kedalaman alquran. Naun halpenting yang tersirat dari ayat tersebut mengingatkan kita bahwa kemungkinan salah dan sesat dalampengembaraan ilmiah bisa saja terjadi. Ini juga mengingatka bahwa kebenaran ilmuadalah relatif sehingga dalam memahami kebenaran mutlak alquran dengan perangkat sains, harus kita sadari pularelativitas penafsiran kita.

Fenomena langit

”Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”.

Banyak makna yang bisa diungkap darifenomena astronomis itu – yang mungkin jarang kita renungkan – untuk menyucikan jiwa kita. Misalnya , matahari sesaat setelah terbit yang disebut pada surat asy-syams.

Matahari di kaki langit tampak lebih besar daripada ketika berada diatas kepala. Padahal, ukuran piringan matahari tidak berubah, selain efek refraksi atmosfer yang menyebabkan sedikit lebih lonjong. Pola pikir manusia yang bersifat nisbi menyebabkan kesan besarnya matahari di kaki langit. Ketika itu, matahari tampak besar karena di bandingakan dengan latar depan pepohonan, bangunan, atau benda lainnya yang tampak kecil di kejauhan. Demikianlah, jiwa manusia cenderung merasa diri besar, kuat, kaya, pandai, atau terhormat karena membandingkannya dengan yang kecil, lemah, miskin, bodoh, ataupun terhina.

Itulah psiko-astronomis fenomena matahari. Memang, fenomena alam dengan proses spesifik yang disebut di dalam srat asy-syams kaya akan pelajaran untuk direnungkan. Matahari sebagai objek sentral pada empat ayat pertama tampaknya dijadikan perlambang untuk direnungkan.

Matahari memberikan sinar pada bulan yang mengiringnya sehingga manusia bisa menentukan penanggalan qamariyah. Matahari memberikan cahaya terang dan kehangatan pada siang hari sehingga manusia bisa beraktivitas. Matahari bersembunyi dibalik horizon pada malam hari agar manusia beristirahat.

Perenungan fenomena alam semestinya membimbing ke arah penyucian jiwa, menyadari kenisbian manusai. Sifat dan sikap takabur merupakan pengotor jiwa yang bisa muncul dalam bentuk sikap otoriter, diskriminatif, dan menindas.

Imam Ghazali berpesan, ”Jadilah seorang muslim yang menyurupai matahari. Ia bersinar karena kualitas pribadinya. Ia mampu menerangi dan menghangatkan sekitarnya. Dan ia mampu memberi manfaat bagi masyarakatnya.”

Tujuh langit menurut al Quran dan astronomi

Pemahaman tentang tujuh langit sebagai tujuh lapis langit dalam konsep keislaman mungkin bukan sekadar pengaruh konsep geosentris lama, tetapi juga diambil dari kisah Mi’raj Rasulullah saw. Mi’raj adalah perjalanan dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha yang secara harfiah berarti ”tumbuhan Sidrah yang tak terlampaui”, suatu perlambang batas yang tak ada manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu.

Langit (sama’a atau samawat) di dalam al quran berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu, dan gas yang bertebaraan. Sedangkan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit tidak disebutkan dalam astronomi.

Di dalam al Quran ungkapan ”tujuh” atau ”tujuh puluh” sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung banyaknya. Dalam matematika kita mengenal istilah ”tak terhingga” dalam suatu pendekatan limit, berarti bilangan yang sedemikian besarnya lebih besar dari yang kita bayangkan.

Misalnya dalam surat Lukman (31) ayat 27 diungkapkan ”Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah”. ”Tujuh lautan” bukan berarti jumlah eksak, sebab dengan delapan lautan lagi atau lebihpun kalimat Allah tak akan ada habisnya.

Sama halnya dengan surat at-taubah (9) ayat 80 ”Kendati pun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka”. Jelas ungkapan ”tujuh puluh” bukan merupakan bilangan eksak. Allah tidak mungkin mengampuni mereka bila kita memohonkan ampun lebih dari tujuh puluh kali. Jadi ”tujuh langit” semestinya dipahami pula sebagai benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebaga lapisan-lapisan langit.

Posisi kita di alam semesta

”Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu”(QS Ath-Thalaq : 12). Kita menyakini Bumi kita bukanlah pusat alam semesta yang dikelilingi oleh lapisan-lapisan langit. Empat planet (Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus) berukuran jauh lebih besar Bumi.Jupiter bermassa lebih dari 300 massa bumi. Sedangakan Matahari bermassa 300.000 kali dari massa Bumi dan berukuran sejuta kali Bumi.

Gaya gravitasi Matahari mampu menahan semua anggota tata surya. Matahari sendiri hanyalah bintang kuning berukuran sedang. Ribuan bintang lagi bisa kita lihat di langit dan jutaan lainnya bisa kita lihat dengan teleskop. Diantara bintang-bintang raksasa yang besarnya ratusan kali besar matahari. Semuanya merupakan anggota dari ratusan milliar bintang yang menghuni galaksi kita, Bimasakti.

Galaksi kita digolongkan galaksi spiral, berbentuk seperti huruf S dengan lengan tunggal atau majemuk. Diameternya sekitar 100.000 tahun cahaya. Menembus kedalaman langit lebih jauh lagi. Kita akan menjumpai jutaan, atau mungkin miliaran galaksi lain. Beberapa galaksi akan membentuk gugus galaksi. Kemudian gugusan-gugusan itu akan membentuk Super-Cluster.

Penciptaan alam semesta menurut al Quran dan astronomi

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Al Anbiya 21:30).

Menurut sebuah teori penciptaan alam semesta berawal dari sebuah ledakan besar (BigBang) sekitar 10-20 miliar tahun yang lalu. Semua materi yang ada berkumpul dalam saut titik tak berdimensi yang berkerapatan tak terhingga. Tidak ada suatu titik pun yang dianggap sebagai pusat ledakan, dengan kata lain, ledakan besar alam semesta tidak seperti ledakan bom yang meledak dari satu titik ke segenap penjuru. Lebih tepatnya seluruh alam semesta mengembang tiba-tiba secara serentak. Ketika itulah terbentuk ruang dan waktu.

Dengan menggunakan keadaan tidak terbatas, alam semesta mulai hanya dengan keacakan minimum yang memenuhi Prinsip Ketidakpastian. Kemudian alam semesta ini mengembang dengan pesat. Dengan prinsip ketidakpastian, dinyatakan bahwa alam semesta tidak mungkin sepenuhnya seragam karena disana-sini pasti didapati ketidakpastian posisi dan kecepatan partikel-partikel. Dalam alam semesta yang sedang mengembang ini, kerapatan (density) suatu tempat akan berbeda dan mengakibatkan cepat lambatnya pengembangan galaksi.

Pengembangan alam semesta menurut al Quran dan astronomi

Allah menjelaskan bahwa benda-benda langit tidaklah statis, tetapi terus mengembang sejak pembentukannya. ”Dan langit Kami bangun dengan kekuasaan Kami. Sungguh Kami kuasa meluaskannya.” (QS. Adz-Dzariyat 51: 47).

Secara sederhana, keadaan awal alam semesta dan pengembangannya dapat diilustrasikan dengan pembuatan roti. Materi pembentuk roti semula terkumpul dalam gumpalan kecil. Kemudian mulai mengembang. Dengan kata lain ”ruang” dala roti sedang mengembang. Butir-butir dalam roti saling menjauh satu sama lain (dianalogikan dengan bintang dan planet-planet). Dengan menggunakan solusi kosmologi persamaan Einstein dan Prinsip Kosmologis yang menganggap bahwa alam semesta homogen dimana pun dan istropik disetiap titik di alam, didapatkan dua model alam semesta :

(1). ”terbuka” atau tak terhingga,

(2). ”tertutup” atau berhingga tak terbatas..

Evolusi bintang dan penyempurnaan langit

Di dalam surat al-Baqarah ayat 29 Allah berfirman ,”…Kemudian Dia menuju langit, maka disempurnakannya tujuh langit….”.”Penyempurnaan langit” mengandung arti bahwa langit belum sempurna, dalam arti proses pembentukkannya belum selesai. Melalui sebuah pengamatan didapatkan bhwa bintang lahir dari awan molekul. Diawali oleh awan molekul yang berotasi kemudian partikel-partikel runtuh ke bagian inti dan membentuk inti bintang. Akibat rotasi sebagian partikel membentuk piringan disekitar inti.

Embusan angin bintang lambat laun akan menyingkirkan selimut debu dan gas di sekitar bintang tersebut. Matahari kita tergolong bintang remaja yang baru berumur 4,5 miliar tahun.

Enam hari penciptaan menurut al Quran dan astronomi

”Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam”. Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni) nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”(QS. Fushshilat 41 : 9-12).

Itulah kronologis penciptaan alam semesta dalam enam masa. Dua masa untuk menciptakan langit semenjak berbentuk dukhan, dua masa untuk menciptakan bumi, dan dua masa untuk memberkahi bumi dan menentukan makanan bagi penghuninya.

Masa pertama, dimulai dengan ledakakn besar (bigbang) sekitar 10-20 miliar tahun yang lalu. Inilah awal terbentuknya ruang dan waktu. Hasil fusi nuklir antara inti-inti hidrogen menghasilkan unsur-unsur yang lebih berat, seperti karbon, oksigen sampai besi.

Masa kedua, adalah pembentukan bintang-bintang didalam galaksi-galaksi yang terus berlangsung.

Masa ketiga, proses pembentukan matahari sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu dan mulia dipancarkannya cahaya dan angin matahari.

Masa keempat, masa pemadatan kulit bumi agar layak bagi hunian makhluk hidup.

Masa kelima, hadirnya air dan atmosfer di muka bumi sebagai prasyarat khidupan.

Masa keenam, lahirnya kehidupan di bumi yang dimulai makhluk bersel satu dan tumbuh-tumbuhan.

Kehidupan di luar angkasa

Dan di antara ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) -Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata (Daabah) yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya.” (Asy-Syura 42:29).

Daabah berarti makhluk melata yang dapat bergerak. Sifat-sifatnya dijelaskan dalam surat an-nur ayat 45 : ” Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” di langit berart berada disuatu tempat selain bumi.

Mars merupakan salah satu objek penelitian yang menarik dalam mencari bukti-bukti kehidupan lain di alam semesta ini. Hasil-hasil analisis terbaru dari pengamatan pesawat antariksa yang dikirim ke sana mengungkapkan bahwa kanal-kanal yang ada menuju cekungan-cekungan kawah tumbukan atau lembah yang kini tampak datar.

Kiamat menurut al Quran dan astronomi

”Apabila matahari digulung,. dan ap-abila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan, dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh, . dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka,. dan apabila langit dilenyapkan,. dan apabila neraka Jahim dinyalakan,. dan apabila surga didekatkan,. maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya”..(At-Takwir 81 : 1-14).

Peristiwa qiyamat qubra yang digambarkan pada ayat tersebut sulit dibayangkan mekanismenya. Hal tersebut menggambarkan bahwa pada saat itu hukum-hukum fisika yang menjelaskan keteraturan alam dicabut-Nya, hingga kekacauan terjadi. Peristiwa tersebut mungkin terjadi secara simultan, sekaligus, atau mungkin juga secara gradual.

3. Komentar

Subhanallah, buku yang sangat menakjubkan, buku yang mengungkap sedikit dari kekuasaan Allah swt. Buku ini merupakan secuil tulisan tentang ilmu Allah swt dalam bidang astronomi. Namun dari yang secuil itu kita senantiasa dibuat tercengang menyaksiskan kebesaran ayat-ayat kauniyah-Nya. Kita akan diajak menelusuri proses penciptan alam semesta, proses pengembangan alam semesta, evolusi bintang, penyempurnaan langit, Tentang skenario hari kiamat serta berbagai hal tentang alam yang mampu menggugah sisi spritual dalam diri kita.

Dalam paradigma resensator buku dengan judul Menjelajahi Keluasan Langit Menembus kedalaman Al Quran ini tidak memiliki kekurangan yang signifikan, justru dengan buku ini dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, serta dapat meningkatkan keyakinan kita terhadap Allah swt. Dan melalui buku ini para pembaca dapat mengimplementasikan perilaku sesuai keyakinannya.

Kata akhir dari resensator, buku ini sumgguh luar biasa, kita dibuat tercengang dengan secuil penciptaan Allah swt. Subhanallah.

”Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) -Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur.” Qs luqman 31

18
Apr
08

Konsep Dasar, Manifestasi, dan Beberapa Cara Pendekatan Terhadap Perkembangan Perilaku dan Pribadi

a. Konsep Dasar

Perkembangan di sini di artikan sebagai perubahan perubahan yang dialami oleh indivisu Atau oerganisme menuju tingkat kedewasaannya (matury) yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan baik fisik maupun psikis.

Perkembangan juga bertalian dengan beberapa konsep pertumbuhan (growth), kematangan (maturation), dan belajar (learning) serta latihan (training). Pertumbuhan diartikan sebagai perubahan alamiah secara kuantitatif pada segi jasmaniah atau fisik dan atau menunjukan kepada suatu fungsi tertentu yang baru (yang tadinya yang belum tampak) dari organisme atau individu.

Kematangan atau masa peka menunjukan kepada suatu masa tertentu yang merupakan titik kulminasi dari suatu fase pertumbuhan (Witherington, 1952:88) sebagi titik tolak kesiapan (readiness) dari suatu fungsi (psikofisis) untuk menjalankan fungsinya (Hurlock. 1956).

Belajar atau pendidikan dan latihan, menunjukan kepada perubahn pola-pola sambutan atau perilaku dan aspek-aspek kepribadian tertentu sebagai hasil usaha individu atau organisme yang bersangkutan dalam batas-batas waktu setelah tiba masa pekanya. Dengan demikian, dapat dibedakan bahwa perubahan-perubahan perilaku dan pribadi sebagai hasil belajar itu berlangsung secars intensional atau dengan sengaja diusahakan oleh individu yang bersangkutan, sedangkan perubahan dalam arti pertumbuhan dan kematangan berlangsung secara alamiah menurut jalannya pertambahn waktu atau usia yang ditempuh oleh yang bersangkutan.

Lefrancois (1975:180) berpendapat bahwa konsep perkembangan mempunyai makna yang luas, mencakup segi-segi kuantitatif dan kualitatif serta aspek-aspek fisik-psikis sepertiyang terkandung dalam istilah-istilah pertumbuhan, kematangan dan belajar atau pendidikan dan latihan.

b. Manifestasi Perkembangan

Uraian dalam paragraf (a) di atas mengimplikasikan bahwa manifestasi perkembangan individu dapat ditunjukan dengan munculnya atau hilangnya, bertambah atau berkurangnya bagian-bagian, fungsi-fungsi atau sifat-sifat psikofisis, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, yang sampai batas tertentu dapat diamati dan diukur dengan mempergunakan teknik dan instrumen yang sesuai (appropriate).

Perubahan-perubahan aspek fisik dapat diidentifikasikan relative lebih mudah manifestasinya, karena dapat dilakukanpengamatan dan pengukuran secara langsung, sperti perkembangan tinggi dan berat badan, tanggal dan tumbuhnya gigi, dan sebagainya.

Lain halnya dengan segi-segi psikis yang relatif sulit untuk identifikasinya, karena kita hanya dapat mengamati dan sampai batas tertentu mengukur manifestasi perkembangan tersebut secara tidak langsung dalam bentuk atau wujud perilaku, yang sebenarnya pula bergantung dan dipengaruhi oleh tingkat-tingkat perkembangan aspek fisiknya. Beberapa di antara bentuk atau wujud perkembangan perilaku tersebut, antara lain:

(1) Perkembangan perceptual (pengamatan ruang, pengamatan wujud, dan situasi);

(2) Perkembangan penguasaan dan control motorik (koordinasi penginderaan dan gerak);

(3) Perkembangan penguasaan pola-pola keterampilan mental-fisik (cerdas, tangkas, dan cernat);

(4) Perkembangan pengetahuan bahasan dan berpikir.

c. Beberapa Cara Pendekatan

Ada dua cara pendekatan utama dalm memahami perkembangan perilaku dan pribadi individu yang manifestasinya seperti tersebut di atas itu, ialah pendekatan longitudinal dan cross sectional.

Pendekatan longitudinal dipergunakan untuk memahami perkembangan perilaku dan pribadi seseorang atau sejumlah kasus tertentu (mengenai satu atau sejumlah aspek perilaku atau pribadi tertentu) dengan mengikuti proses perkembangan dari satu titik waktu atau fase tertentu ke titik waktu atau fase yang berikutnya. Oleh karena itu, tekniknya berbentuk case study (studi kasus), case history, autobiografi, eksperimentasi, dan sebagainya.

Adapun pendekatan cross sectional biasanya digunakan untuk memahami suatu aspek atau sejumlah aspek perkembangan tertentu pada suatu atau beberapa kelompok populasi tingkatan usia subjek tertentu secara serenpak pada saat yang sama. Oleh karena itu, teknik yang sesuai dengan pendekatan ini, antara lain teknik survey. Sudah barang tentu sampai batas-batas tertentu dapat digunakan kombinasi atau elektrik dengan pendekatan longitudinal.

Proses dan Fakor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Perilaku dan Pribadi

Berkenaan dengan proses perkembangan ini, ada tiga hal yang secara esensial perlu dipahami: sejak kapan dimulai dan berakhirnya, factor-faktor apa yang mempengaruhi seta bagaimana berlangsungnya proses tersebut.

Secara faktual, perkembangan bukan dimulai sejak kelahiran seseorang dari rahim ibunya, melainkan sejak terjadinya konsepsi, ialah saat berlangsungnya pembuahan atau perkawinan yang menghasilkan benih manusia (zygote) yang kemudian berkembag menjadi organisme atau janin (embryo) sebagai calon manisia yang di kenal sebagai fetus (bayi dalam kandungan). Pada umumnya, setiap fetus memerlukan waktu sekitar sembilan bulan atau 266 hari (Lefrancois, 1975:17) sampai matang (mature) atau lahir (natal).

Variasi individual memang terjadi, ada yang lebih awal (premature) dari waktu tersebut dan ada pula yang lebih lambat (late mature), bergantung kondisinya. Mulai sejak lahir bayi menjalani masa kanak-kanak, remaja, dewasa sampai hari tuannya yang pada umumnya memerlukan waktu (life span) sekitar 60-70 tahun, yang sudah barang tentu bervariasi pula sesuai dengan kondisi yang memungkinkannya.

Ada tiga faktor dominan yang mempengaruhi proses perkembangan individu, ialah factor pembawaan (heredity) yang bersifat alamiah (nature), faktor lingkungan (environment) yang merupakan kondisi yang memungkinkan berlangsungnya proses perkembangan (nurture), dan faktor waktu (time) yaitu saat-saat tibanya masa peka atau kematangan (maturation).

Ketiga factor dominant itu dalam proses berlangsungnya perkembangan individu berperan secara interaktif, yang dapat dijelaskan secara fungsional atau regresional.

Dengan demikian formula-formula P = f(H, E, T) atau P = a + b1H + b2E + b3T + E kirannya dapat juga dipergunakan untuk menjelaskan seberapa besar bobot(weight) kontribusi dan bagaimana arahnya (positif atau negatif) dari setiap faktor dominan (H = heredity/nurture dan T = time/maturition) tersebut terhadap perkembangan perilaku dan pribadi (P) seseorang.

Ada tiga kemungkinan kecenderungan arah garis perkembangan hidup seseorang yang dapt digambarkan secara visual, sebagai berikut.

Pada individu-individu yang tergolong normal pada umumnya perkembangan laju pesat sampai usia limabelas tahun, di mana tercapainya titik optimal kedewasaan perkembangan fungsi-fungsi fisik dan psikis (intelektual).

Kemungkinan perkembangan selanjutnya:

(a) Kemungkinan pertama, bagi mereka yang tidak memperoleh kesempatan untuk belajar atau melatih fungsi-fungsinya (terutama segi intelektual), maka kemampuannya cenderung tidak berkembang lagi sampai usia sekitar empat puluh tahunan. Bahkan, setelah mencapai usia tersebut kemampuannya mulai menurun, malahan tidak kurang jumlahnya yang menuju pikun pada hari-hari tuanya (garis a)

(b) Kemungkinan kedua, bagi mereka yang bernasib baikuntuk memperoleh kesempatan belajar atau melatih fungsi-fungsi psikofisiknya lebih lanjut, maka perkembangan kemampuan fungsi-fungsi masih ada baiknya bersifat peningkatan atau perluasan sampai taraf empat puluhan pulam namun selanjutnya, setelah dijalani usia tersebut tidak berkesempatan lagi belajar, tetapi hanya bekerja, secara routline dan monoton, maka cenderung untuk berada pada titik jenuh tersebut dan tidak berkembang lagi (garis b). namun bagi mereka yang terus berusaha belajar dan mengumuli perkembangan informasi-informasi mutakhir, perkembangan itu dapat terjadi meskipun hanya bersifat perluasan atau pendalaman (garis c).

Beberapa Model Pentahapan (Stages) Perkembangan Perilaku dan Pribadi dengan Karakteristiknya

Perkembangan berlangsung secara bertahap, dalam arti:

(a) bahwa perubahan yang terjadi bersifat maju meningkat dan atau mendalam dan/atau meluas, baik secara kuantitatif maupun kualitatif (prinsip progresif);

(b) bahwa perunahan yang terjadi antarbagian dan/atau fungsi organisme terdapat interdepedensi sebagai kesatuan integral yang harmonis (prineip sistematik);

(c) bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan dan berurutan dan tidak secara kebetulan dan meloncat-loncat (prinsip berkesinambungan).

Memperhatikan kompleksitas dari sifat perkembangan perilaku dan pribadi individu itu, maka untuk keperluan studi yang saksama, para ahli telah mencoba mengembangkan model pentahapan (stages) mengenai proses perkembangan tersebut sehingga memungkinkan pilihan focus observasi pada aspek atau fase tertentu baik secara longitudinal maupun cross sectional. Beberapa contoh model tersebut antara lain dikembangkan oleh:

(a) Aristoteles (384-233 SM)

Ia membagi masa perkembangan individu sampai menginjak sewasa dalam tiga septima berdasarkan perubahan cirri fisik tertentu.

Nama Tahapan

Waktu

Idikator

(1) masa kanak-kanak

(2) masa anak sekolah

(3) masa remaja

0;0 – 7;0

7;0 – 14,;0

14;0 – 21;0

Pergantian gigi

Gejala pubertas

(cirri-ciri primer dan sekunder)

(b) Hurlock (1952)

Ia membagi fase-fase perkembangan individu secara lengkap sebagai berikut.

Nama Tahapan

Waktu

Indikator

(1) prenatal

(2) infacy

(3) babyhood

(4) childhood

(5) adolescence

(6) adulthood

(7) middle age

(8) old age

Conception – 280 days

0 – 10 to 14 days

2 weeks – 2 years

2 years – adolvence

13 (girls) – 21 years

14 (boys) – 21 years

21 -25 years

25 -30 years

30 years – death

Perubahan-perubahan psikofisis

(c) Piaget (1961)

Dengan menobservasi aspek perkembangan intelektual, Piaget mengembangkan model pentahapan perkembangan individu sebagai berikut.

Stage

Age

(1) Sensorimotor

(2) Preoperational

(a) Preconceptual

(b) Intuitive

(3) Concrete operations

(4) Formal operations

0 – 2 years

2 – 7 years

2 – 4 years

4 – 7 years

7 – 11 years

11 – 15 years

(d) Erikson (1963)

Ia mengamati beberapa segi perkembangan kepribadian dan mengembankan model pentahapan perkembangan tanpa menunjukkan batas umur yang jelas atau tegas, namun menunjukkan komponen yang menonjol pada setiap fase perkembangan.

Developmential Stages

Basic Components

I.

II.

III.

IV.

V.

VI.

VII.

VIII.

Infacy

Early childhood

Preschool age

Scholl age

Adolescence

Young adulthood

Adulthood

Senescence

Trust vs mistrust

Autonomy vs shame, doubt

Iniative vs guilt

Industry vs inferiority

Identity vs identity confusion

Intimacy vs isolation

Generativity vs stagnation

Ego integrity vs despair

(e) Witherington (1952)

Mengobservasi penonjolan aspek perkembangan psikofisik yang selaras dengan jenjang praktek pendidikan, ia membagi tahap yang lamanya masing-masing tiga tahun perkembangan individu sampai menjelang dewasa.

Stages

Indikator

(1) 0;0 – 3;0

(2) 3;0 – 6;0

(3) 6;0 – 9;0

(4) 9;0 – 12;0

(5) 12;0 – 15;0

(6) 15;0 – 18;0

Perkembangan fisik yang pesat

Perkembangan mental yang pesat

Perkembangan social yang pesat

Perkembangan sikap individualis (II)

Awal penyusuaian social

Awal pilihan kecendrungan pola hidup yang akan diikiuti sampai dewasa

Beberapa Hukum (Principles) Perkembangan Perilaku dan Pribadi serta Implikasinya bagi Kehidupan.

Hukum

Implikasi

a. Perkembangan dipengaruhi oleh factor-faktor pembawaan, lingkungan, dan kematangan.

a. Pengembangan (penyusunan, pemilihan, penggunaan) materi, strategi, metodologi, sumber, evaluasi belajar-mengajar hendaknya memperhatikan ketiga factor tersebut.

b. Proses perkembangan itu berlangsumg secara bertahap (profresif, sistematik, berkesinambungan).

b. Program (kurikulum) belajar-mengajar disusun secara bertahap dan berjenjang:

(1) Dari sederhana menuju kompleks

(2) Dari mudah menuju sukar.

(3) System belajar-mengajar diorganisasikan agar terlaksananya prinsip:

(a) Mastery learning (belajar tuntas)

(b) Continuous progress (maju berkelanjutan)

c. Bagian – bagian dari fungsi-fungsi organisme mempunyai garis perkembangan dan tingkat kematangan masing-masing. Meskipun demikian, sebagai kesatuan organis dalam prosesnya terdapat korelasi dan bahkan kompensatoris antara yang satu dengan yang lainnnya.

c. Sampai batas tertentu, program dan strategi belajar-mengajar seyogyanya dalam bentuk:

(1) Correlated curriculum, atau

(2) Broadfields, atau

(3) Subject maiter oriented,(sampai batas tertentu pula

d. Terdapat variasi dalam tempo dua irama perkembangan antar-individual dan kelompoktertentu (menurut latar belakang jenis, geografis, dan kultur).

d. Program dan strategi-mengajar, sampai batas tertentu seyogyanya diorganisasikan agar memungkingkan belajar secara individual disamping secarakelompok (misalnya, dengan system pengajaran modul).

e. Proses perkembangan itu pada taraf awalnya bersifat diferensial dan pada akhirnya lebih bersifat integrasi antarbagian dan fungsi organisme.

e. Program dan strategi belajar-mengajar seyogyanya diorganisasikan agar memungkinkan proses yang bersifat :

(1) Deduktif – Induktif

(2) Analisis – Sintesis

(3) Global –Spesifik – Global

f. Dalam batas-batas masa peka, perkembangan dapat dipercepat atau diperlambat oleh kondisi lingkungan.

f. Program dan strategi belajar-mengajar seyogyanya dikembangkan dan diorganisasikan perlakuan (intervensi) yang dapat merangsang, mempercepat, dan menghindari ekses memperlambat laju perkembangan anak didik.

g. Laju perkembangan anak berlangsung lebih pesat pada periode kanak-kanak dari periode-periode berikutnya.

g. Lingkungan hidup dan pendidikan anak-anak (TK) sangat penting untuk memperkaya pengalaman dan mempercepat laju perkembangannya.

17
Apr
08

Tuhan itu Ada

Beriman bahwa Tuhan itu ada adalah iman yang paling utama. Jika seseorang sudah tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, maka sesungguhnya orang itu dalam kesesatan yang nyata.

Benarkah Tuhan itu ada? Kita tidak pernah melihat Tuhan. Kita juga tidak pernah bercakap-cakap dengan Tuhan. Karena itu, tidak heran jika orang-orang atheist menganggap Tuhan itu tidak ada. Cuma khayalan orang belaka.

Ada kisah zaman dulu tentang orang atheist yang tidak percaya dengan Tuhan. Dia mengajak berdebat seorang alim mengenai ada atau tidak adanya Tuhan. Di antara pertanyaannya adalah: “Benarkah Tuhan itu ada” dan “Jika ada, di manakah Tuhan itu?”

Ketika orang atheist itu menunggu bersama para penduduk di kampung tersebut, orang alim itu belum juga datang. Ketika orang atheist dan para penduduk berpikir bahwa orang alim itu tidak akan datang, barulah muncul orang alim tersebut.

“Maaf jika kalian menunggu lama. Karena hujan turun deras, maka sungai menjadi banjir, sehingga jembatannya hanyut dan saya tak bisa menyeberang. Alhamdulillah tiba-tiba ada sebatang pohon yang tumbang. Kemudian, pohon tersebut terpotong-potong ranting dan dahannya dengan sendirinya, sehingga jadi satu batang yang lurus, hingga akhirnya menjadi perahu. Setelah itu, baru saya bisa menyeberangi sungai dengan perahu tersebut.” Begitu orang alim itu berkata.

Si Atheist dan juga para penduduk kampung tertawa terbahak-bahak. Dia berkata kepada orang banyak, “Orang alim ini sudah gila rupanya. Masak pohon bisa jadi perahu dengan sendirinya. Mana bisa perahu jadi dengan sendirinya tanpa ada yang membuatnya!” Orang banyak pun tertawa riuh.

Setelah tawa agak reda, orang alim pun berkata, “Jika kalian percaya bahwa perahu tak mungkin ada tanpa ada pembuatnya, kenapa kalian percaya bahwa bumi, langit, dan seisinya bisa ada tanpa penciptanya? Mana yang lebih sulit, membuat perahu, atau menciptakan bumi, langit, dan seisinya ini?”

Mendengar perkataan orang alim tersebut, akhirnya mereka sadar bahwa mereka telah terjebak oleh pernyataan mereka sendiri.

“Kalau begitu, jawab pertanyaanku yang kedua,” kata si Atheist. “Jika Tuhan itu ada, mengapa dia tidak kelihatan. Di mana Tuhan itu berada?” Orang atheist itu berpendapat, karena dia tidak pernah melihat Tuhan, maka Tuhan itu tidak ada.

Orang alim itu kemudian menampar pipi si atheist dengan keras, sehingga si atheist merasa kesakitan.

“Kenapa anda memukul saya? Sakit sekali.” Begitu si Atheist mengaduh.

Si Alim bertanya, “Ah mana ada sakit. Saya tidak melihat sakit. Di mana sakitnya?”

“Ini sakitnya di sini,” si Atheist menunjuk-nunjuk pipinya.

“Tidak, saya tidak melihat sakit. Apakah para hadirin melihat sakitnya?” Si Alim bertanya ke orang banyak.

Orang banyak berkata, “Tidak!”

“Nah, meski kita tidak bisa melihat sakit, bukan berarti sakit itu tidak ada. Begitu juga Tuhan. Karena kita tidak bisa melihat Tuhan, bukan berarti Tuhan itu tidak ada. Tuhan ada. Meski kita tidak bisa melihatNya, tapi kita bisa merasakan ciptaannya.” Demikian si Alim berkata.

Sederhana memang pembuktian orang alim tersebut. Tapi pernyataan bahwa Tuhan itu tidak ada hanya karena panca indera manusia tidak bisa mengetahui keberadaan Tuhan adalah pernyataan yang keliru.

Berapa banyak benda yang tidak bisa dilihat atau didengar manusia, tapi pada kenyataannya benda itu ada?

Betapa banyak benda langit yang jaraknya milyaran, bahkan mungkin trilyunan cahaya yang tidak pernah dilihat manusia, tapi benda itu sebenarnya ada?

Berapa banyak zakat berukuran molekul, bahkan nukleus (rambut dibelah 1 juta), sehingga manusia tak bisa melihatnya, ternyata benda itu ada? (manusia baru bisa melihatnya jika meletakan benda tersebut ke bawah mikroskop yang amat kuat).

Berapa banyak gelombang (entah radio, elektromagnetik. Listrik, dan lain-lain) yang tak bisa dilihat, tapi ternyata hal itu ada.

Benda itu ada, tapi panca indera manusia lah yang terbatas, sehingga tidak mengetahui keberadaannya.

Kemampuan manusia untuk melihat warna hanya terbatas pada beberapa frekuensi tertentu, demikian pula suara. Terkadang sinar yang amat menyilaukan bukan saja tak dapat dilihat, tapi dapat membutakan manusia. Demikian pula suara dengan frekuensi dan kekerasan tertentu selain ada yang tak bisa didengar juga ada yang mampu menghancurkan pendengaran manusia. Jika untuk mengetahui keberadaan ciptaan Allah saja manusia sudah mengalami kesulitan, apalagi untuk mengetahui keberadaan Sang Maha Pencipta!

Memang sulit membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Tapi jika kita melihat pesawat terbang, mobil, TV, dan lain-lain, sangat tidak masuk akal jika kita berkata semua itu terjadi dengan sendirinya. Pasti ada pembuatnya.

Jika benda-benda yang sederhana seperti korek api saja ada pembuatnya, apalagi dunia yang jauh lebih kompleks.

Bumi yang sekarang didiami oleh sekitar 8 milyar manusia, keliling lingkarannya sekitar 40 ribu kilometer panjangnya. Matahari, keliling lingkarannya sekitar 4,3 juta kilometer panjangnya.

Matahari, dan 9 planetnya yang tergabung dalam Sistem Tata Surya, tergabung dalam galaksi Bima Sakti yang panjangnya sekitar 100 ribu tahun cahaya (kecepatan cahaya=300 ribu kilometer/detik!) bersama sekitar 100 milyar bintang lainnya. Galaksi Bima Sakti, hanyalah 1 galaksi di antara ribuan galaksi lainnya yang tergabung dalam 1 “Cluster”. Cluster ini bersama ribuan Cluster lainnya membentuk 1 Super Cluster. Sementara ribuan Super Cluster ini akhirnya membentuk “Jagad Raya” (Universe) yang bentangannya sejauh 30 Milyar Tahun Cahaya! Harap diingat, angka 30 Milyar Tahun Cahaya baru angka estimasi saat ini, karena jarak pandang teleskop tercanggih baru

Bayangkan, jika jarak bumi dengan matahari yang 150 juta kilometer ditempuh oleh cahaya hanya dalam 8 menit, maka seluruh Jagad Raya baru bisa ditempuh selama 30 milyar tahun cahaya. Itulah kebesaran ciptaan Allah! Jika kita yakin akan kebesaran ciptaan Tuhan, maka hendaknya kita lebih meyakini lagi kebesaran penciptanya.

Dalam Al Qur’an, Allah menjelaskan bahwa Dialah yang menciptakan langit, bintang, matahari, bulan, dan lain-lain:

“Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.” [Al Furqoon:61]

Ada jutaan orang yang mengatur lalu lintas jalan raya, laut, dan udara. Mercusuar sebagai penunjuk arah di bangun, demikian pula lampu merah dan radar. Menara kontrol bandara mengatur lalu lintas laut dan udara. Sementara tiap kendaraan ada pengemudinya. Bahkan untuk pesawat terbang ada Pilot dan Co-pilot, sementara di kapal laut ada Kapten, juru mudi, dan lain-lain. Toh, ribuan kecelakaan selalu terjadi di darat, laut, dan udara. Meski ada yang mengatur, tetap terjadi kecelakaan lalu lintas.

Sebaliknya, bumi, matahari, bulan, bintang, dan lain-lain selalu beredar selama milyaran tahun lebih (umur bumi diperkirakan sekitar 4,5 milyar tahun) tanpa ada tabrakan. Selama milyaran tahun, tidak pernah bumi menabrak bulan, atau bulan menabrak matahari. Padahal tidak ada rambu-rambu jalan, polisi, atau pun pilot yang mengendarai. Tanpa ada Tuhan yang Maha Mengatur, tidak mungkin semua itu terjadi. Semua itu terjadi karena adanya Tuhan yang Maha Pengatur. Allah yang telah menetapkan tempat-tempat perjalanan (orbit) bagi masing-masing benda tersebut. Jika kita sungguh-sungguh memikirkan hal ini, tentu kita yakin bahwa Tuhan itu ada.

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Yunus:5]

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yaa Siin:40]

Sungguhnya orang-orang yang memikirkan alam, insya Allah akan yakin bahwa Tuhan itu ada:

“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” [Ar Ra’d:2]

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [Ali Imron:191]

Terhadap manusia-manusia yang sombong dan tidak mengakui adanya Tuhan, Allah menanyakan kepada mereka tentang makhluk ciptaannya. Manusiakah yang menciptakan, atau Tuhan yang Maha Pencipta:

“Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?” [Al Waaqi’ah:58-59]

“Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?” [Al Waaqi’ah:63-64]

“Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya?” [Al Waaqi’ah:72]

Di ayat lain, bahkan Allah menantang pihak lain untuk menciptakan lalat jika mereka mampu. Manusia mungkin bisa membuat robot dari bahan-bahan yang sudah diciptakan oleh Allah. Tapi untuk menciptakan seekor lalat dari tiada menjadi ada serta makhluk yang bisa bereproduksi (beranak-pinak), tak ada satu pun yang bisa menciptakannya kecuali Allah:

“…Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” [Al Hajj:73]

Sesungguhnya, masih banyak ayat-ayat Al Qur’an lainnya yang menjelaskan bahwa sesungguhnya, Tuhan itu ada, dan Dia lah yang Maha Pencipta

Wassalamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokatuhu,

geovisit();

<img src=”http://visit.geocities.yahoo.com/visit.gif?us1208409947″ alt=”setstats” border=”0″ width=”1″ height=”1″>1

17
Apr
08

Kehancuran Bumi tahun 2053 dan tumbukan benda langit

Betul, itu hoax. Benturan antar planet terakhir di Bumi terjadi pada awal terbentuknya tata surya, ketika semua masih serba chaotic. Benturan proto Bumi yang masih cair panas dengan obyek sebesar Mars itulah yang melemparkan gumpalan besar ke angkasa dan kini menjadi Bulan. Kalo periode ulangan benturan ini kita hitung dengan persamaannya Near Earth Object Science Definition Team 2003, benturan yang sama akan terjadi lagi beberapa milyar tahun mendatang. Itu pun dengan syarat karakter orbit planet besar itu sama dengan orbit asteroid2 yang eksis saat ini, hal yang sulit dibayangkan mengingat planet2 pada umumnya berorbit stabil : memiliki inklinasi dan eksentrisitas kecil. Terkecuali Pluto dan 2003 UB 313, sang planet ke-10 itu. Namun status Pluto sudah menjadi debate of decades, karena di masa kini diketahui bahwa Pluto dan 2003 UB 313 hanyalah anggota terbesar dari milyaran asteroid transneptunik yang bergentayangan di Sabuk Kuiper, sama halnya dengan Ceres yang superior di kalangan anggota Sabuk Asteroid. Penetapan Pluto sebagai planet, diyakini banyak orang sebagai ” kesalahan sejarah ” warisan abad ke-20, namun rasanya International Astronomical Union belum mau ‘mengakui’ kesalahan ini.
Kalo soal mengiamatkan Bumi dengan benturan benda langit, itu sih tak perlu menunggu datangnya planet besar yang nyasar. Bila kita baca makalah bersama Owen B. Toon dkk (Owen B. Toon, Kevin Zahnle, David Morrison; 1995; Environmental Perturbations Caused by the Impact of Asteroids and Comets; NASA Ames Research Centre; prosiding Planetary Defense Workshop 1995 di Laboratorium Nasional Lawrence Livermore California), cukup dengan tumbukan komet/asteroid berdiameter 4 – 6,5 km, yang melepaskan energi 1 – 10 juta megaton TNT dan menghasilkan kawah besar berdiameter 80 – 130 km, Bumi sudah kiamat akibat berlangsungnya musim dingin nuklir disusul pemanasan global selama ribuan tahun. Selang waktu terjadinya tumbukan itu, menurut hitungan, tiap 150 juta tahun. Dan terakhir tumbukan itu terjadi pada 35 juta tahun silam, yang membentuk kawah Chesapeake Bay dan kini terkubur di bawah megapolitan New York. Jadi tenang saja, masih ada sisa waktu 115 juta tahun lagi untuk bersenang-senang, teorinya :) .
Namun berdasar pendapat almarhum Carl Sagan, selang waktu kiamat itu sebenarnya jauh lebih pendek. Sagan telah lama mengemukakan hipotesis Shiva, tentang selang waktu tumbukan2 komet/asteroid besar dengan dampak global bagi Bumi tiap 35 juta tahun sekali, dengan error beberapa juta tahun. Contohnya, 65 juta tahun silam asteroid berdiameter 10 km jatuh di Teluk Meksiko, membentuk kawah raksasa (kawah Chicxulub) yang diameternya 200 km dan membuat 75 % populasi makhluk hidup musnah. Kejadian yang sama, dalam skala lebih kecil, terulang 35 juta tahun silam dengan terbentuknya kawah Chesapeake Bay (diameter 100 km) akibat tumbukan asteroid berdiameter 5 km. Maka, kalo Sagan bisa dipercaya, (seharusnya) tumbukan besar itu sudah terjadi kembali dekat2 masa sekarang ini.
Menarik sekali bahwa para astrogeolog sudah lama curiga bahwa tumbukan itu sudah terjadi pada 0,7 juta tahun lalu. Tempatnya belum diketahui pasti, namun yang jelas di kawasan Asia Tenggara, di Indocina. Jejaknya terlihat jelas dari sebaran mineral tektit (bekuan produk tumbukan) yang dinamakan tektit Austral-asia, yang terdistribusi dalam daerah sangat luas mulai dari New Zealand, Australia, Asia Tenggara, Madagaskar, Cina, hingga pedalaman Russia. Edward Chao – yang bersama almarhum Eugene M. Shoemaker dan Nicholas M. Short di tahun 1960-an memelopori studi perbandingan batuan di dasar kawah Meteor dan kawah2 produk ujicoba nuklir di gurun Nevada dan memastikan bahwa kawah Meteor diproduksi oleh aksi energi tinggi yang melepaskan tekanan superkuat, like nuclear explosion, jauh melebihi tekanan letusan gunung berapi, dan secara alami hanya bisa terjadi dalam tumbukan benda langit – bahkan menyamakan sebaran tektit Austral-asia ini dengan sebaran lapisan tipis lempung hitam yang terjepit di antara sedimen zaman Kapur dan Tersier, jejak dari tumbukan asteroid 65 juta tahun silam.Khusus di Indocina, tektit itu tidaklah kecil2 dan ringan, namun berat dengan struktur berlapis, disebut tektit Muong Nong. Model2 aerodinamika pembentukan tektit menunjukkan bahwa tektit Munong Nong tidak akan terlontar jauh dari sumbernya. Hal ini menarik sekali, karena salah satu satelit NASA – yang mengamati variasi tinggi muka air laut – di tahun 1988 mendeteksi adanya anomali di lepas pantai Vietnam, di perairan Laut Cina Selatan, pada koordinat kasar 13deg LU 110deg BT dan hanya berjarak beberapa puluh / ratus kilometer saja dari lokasi singkapan2 tektit Muong Nong. Anomali itu diterjemahkan sebagai adanya ” depresi bulat ” berdiameter 100-an km di dasar laut. Mungkin inilah kawah itu, hanya saja belum diselidiki lebih lanjut, dan akan sangat menarik jika kemudian dikaitkan dengan nasib Homo erectus, yang menurut para arkeolog pada saat itu sudah mulai tersebar di Asia tenggara

Apa Kata Al Quran

Sura Az-Zilzal (99)

  1. Apabila Bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat.
  2. Dan Bumi telah mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya.

Surat Al-Qariah (101)

  1. Hari kiamat,
  2. Apakah hari kiamat itu?
  3. Dan tahukah kamu apa hari kiamat itu?
  4. Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan,
  5. Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan

Bismillaahirrahmanirahiim Menarik membahas tentang kiamat walau dalam Al Qur’an ditekankan bahwa pengetahuan kiamat hanya Allah yang tahu.

Sedang saya persiapkan artikel tentang kiamat, dari banyak ayat Al Qur’an dijelaskan dengan lugas bahwa kiamat bukan hancurnya alam semesta tetapi kiamat merupakan rangkaian peristiwanya.

Pada saat sangkakala pertama alam semesta hancur dan berikutnya secara berurutan alam dibangun kembali (qiyamah) menjadi bentuk baru. Pada saat qiyam inilah dihisab amal perbuatan manusia dan terjadi kepanikan seluruh manusia dari seluruh alam (termasuk dari bumi).

Di akhirat kelak masih ada matahari dan planet yang masing-masing merupakan tempat surga dan neraka. Mungkinkah pada waktu itu hanya ada matahari tunggal dengan planet tunggal yang ukurannya maha besar karena berkumpulnya semua materi alam?

17
Apr
08

My First Blog

Welcome,,,,

Wilejeung Sumping,,,

“Ilmu adalah uang, untuk mendapatkan Ilmu perlu uang.

Ada ilmu yang Gratis?

Di sini tempatnya.”

deni rokhyadi  (naz9ul_13@yahoo.co.id)




 

November 2009
S S R K J S M
« Jan    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 4,297 hits