a. Konsep Dasar
Perkembangan di sini di artikan sebagai perubahan perubahan yang dialami oleh indivisu Atau oerganisme menuju tingkat kedewasaannya (matury) yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan baik fisik maupun psikis.
Perkembangan juga bertalian dengan beberapa konsep pertumbuhan (growth), kematangan (maturation), dan belajar (learning) serta latihan (training). Pertumbuhan diartikan sebagai perubahan alamiah secara kuantitatif pada segi jasmaniah atau fisik dan atau menunjukan kepada suatu fungsi tertentu yang baru (yang tadinya yang belum tampak) dari organisme atau individu.
Kematangan atau masa peka menunjukan kepada suatu masa tertentu yang merupakan titik kulminasi dari suatu fase pertumbuhan (Witherington, 1952:88) sebagi titik tolak kesiapan (readiness) dari suatu fungsi (psikofisis) untuk menjalankan fungsinya (Hurlock. 1956).
Belajar atau pendidikan dan latihan, menunjukan kepada perubahn pola-pola sambutan atau perilaku dan aspek-aspek kepribadian tertentu sebagai hasil usaha individu atau organisme yang bersangkutan dalam batas-batas waktu setelah tiba masa pekanya. Dengan demikian, dapat dibedakan bahwa perubahan-perubahan perilaku dan pribadi sebagai hasil belajar itu berlangsung secars intensional atau dengan sengaja diusahakan oleh individu yang bersangkutan, sedangkan perubahan dalam arti pertumbuhan dan kematangan berlangsung secara alamiah menurut jalannya pertambahn waktu atau usia yang ditempuh oleh yang bersangkutan.
Lefrancois (1975:180) berpendapat bahwa konsep perkembangan mempunyai makna yang luas, mencakup segi-segi kuantitatif dan kualitatif serta aspek-aspek fisik-psikis sepertiyang terkandung dalam istilah-istilah pertumbuhan, kematangan dan belajar atau pendidikan dan latihan.
b. Manifestasi Perkembangan
Uraian dalam paragraf (a) di atas mengimplikasikan bahwa manifestasi perkembangan individu dapat ditunjukan dengan munculnya atau hilangnya, bertambah atau berkurangnya bagian-bagian, fungsi-fungsi atau sifat-sifat psikofisis, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, yang sampai batas tertentu dapat diamati dan diukur dengan mempergunakan teknik dan instrumen yang sesuai (appropriate).
Perubahan-perubahan aspek fisik dapat diidentifikasikan relative lebih mudah manifestasinya, karena dapat dilakukanpengamatan dan pengukuran secara langsung, sperti perkembangan tinggi dan berat badan, tanggal dan tumbuhnya gigi, dan sebagainya.
Lain halnya dengan segi-segi psikis yang relatif sulit untuk identifikasinya, karena kita hanya dapat mengamati dan sampai batas tertentu mengukur manifestasi perkembangan tersebut secara tidak langsung dalam bentuk atau wujud perilaku, yang sebenarnya pula bergantung dan dipengaruhi oleh tingkat-tingkat perkembangan aspek fisiknya. Beberapa di antara bentuk atau wujud perkembangan perilaku tersebut, antara lain:
(1) Perkembangan perceptual (pengamatan ruang, pengamatan wujud, dan situasi);
(2) Perkembangan penguasaan dan control motorik (koordinasi penginderaan dan gerak);
(3) Perkembangan penguasaan pola-pola keterampilan mental-fisik (cerdas, tangkas, dan cernat);
(4) Perkembangan pengetahuan bahasan dan berpikir.
c. Beberapa Cara Pendekatan
Ada dua cara pendekatan utama dalm memahami perkembangan perilaku dan pribadi individu yang manifestasinya seperti tersebut di atas itu, ialah pendekatan longitudinal dan cross sectional.
Pendekatan longitudinal dipergunakan untuk memahami perkembangan perilaku dan pribadi seseorang atau sejumlah kasus tertentu (mengenai satu atau sejumlah aspek perilaku atau pribadi tertentu) dengan mengikuti proses perkembangan dari satu titik waktu atau fase tertentu ke titik waktu atau fase yang berikutnya. Oleh karena itu, tekniknya berbentuk case study (studi kasus), case history, autobiografi, eksperimentasi, dan sebagainya.
Adapun pendekatan cross sectional biasanya digunakan untuk memahami suatu aspek atau sejumlah aspek perkembangan tertentu pada suatu atau beberapa kelompok populasi tingkatan usia subjek tertentu secara serenpak pada saat yang sama. Oleh karena itu, teknik yang sesuai dengan pendekatan ini, antara lain teknik survey. Sudah barang tentu sampai batas-batas tertentu dapat digunakan kombinasi atau elektrik dengan pendekatan longitudinal.
Proses dan Fakor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Perilaku dan Pribadi
Berkenaan dengan proses perkembangan ini, ada tiga hal yang secara esensial perlu dipahami: sejak kapan dimulai dan berakhirnya, factor-faktor apa yang mempengaruhi seta bagaimana berlangsungnya proses tersebut.
Secara faktual, perkembangan bukan dimulai sejak kelahiran seseorang dari rahim ibunya, melainkan sejak terjadinya konsepsi, ialah saat berlangsungnya pembuahan atau perkawinan yang menghasilkan benih manusia (zygote) yang kemudian berkembag menjadi organisme atau janin (embryo) sebagai calon manisia yang di kenal sebagai fetus (bayi dalam kandungan). Pada umumnya, setiap fetus memerlukan waktu sekitar sembilan bulan atau 266 hari (Lefrancois, 1975:17) sampai matang (mature) atau lahir (natal).
Variasi individual memang terjadi, ada yang lebih awal (premature) dari waktu tersebut dan ada pula yang lebih lambat (late mature), bergantung kondisinya. Mulai sejak lahir bayi menjalani masa kanak-kanak, remaja, dewasa sampai hari tuannya yang pada umumnya memerlukan waktu (life span) sekitar 60-70 tahun, yang sudah barang tentu bervariasi pula sesuai dengan kondisi yang memungkinkannya.
Ada tiga faktor dominan yang mempengaruhi proses perkembangan individu, ialah factor pembawaan (heredity) yang bersifat alamiah (nature), faktor lingkungan (environment) yang merupakan kondisi yang memungkinkan berlangsungnya proses perkembangan (nurture), dan faktor waktu (time) yaitu saat-saat tibanya masa peka atau kematangan (maturation).
Ketiga factor dominant itu dalam proses berlangsungnya perkembangan individu berperan secara interaktif, yang dapat dijelaskan secara fungsional atau regresional.
Dengan demikian formula-formula P = f(H, E, T) atau P = a + b1H + b2E + b3T + E kirannya dapat juga dipergunakan untuk menjelaskan seberapa besar bobot(weight) kontribusi dan bagaimana arahnya (positif atau negatif) dari setiap faktor dominan (H = heredity/nurture dan T = time/maturition) tersebut terhadap perkembangan perilaku dan pribadi (P) seseorang.
Ada tiga kemungkinan kecenderungan arah garis perkembangan hidup seseorang yang dapt digambarkan secara visual, sebagai berikut.
Pada individu-individu yang tergolong normal pada umumnya perkembangan laju pesat sampai usia limabelas tahun, di mana tercapainya titik optimal kedewasaan perkembangan fungsi-fungsi fisik dan psikis (intelektual).
Kemungkinan perkembangan selanjutnya:
(a) Kemungkinan pertama, bagi mereka yang tidak memperoleh kesempatan untuk belajar atau melatih fungsi-fungsinya (terutama segi intelektual), maka kemampuannya cenderung tidak berkembang lagi sampai usia sekitar empat puluh tahunan. Bahkan, setelah mencapai usia tersebut kemampuannya mulai menurun, malahan tidak kurang jumlahnya yang menuju pikun pada hari-hari tuanya (garis a)
(b) Kemungkinan kedua, bagi mereka yang bernasib baikuntuk memperoleh kesempatan belajar atau melatih fungsi-fungsi psikofisiknya lebih lanjut, maka perkembangan kemampuan fungsi-fungsi masih ada baiknya bersifat peningkatan atau perluasan sampai taraf empat puluhan pulam namun selanjutnya, setelah dijalani usia tersebut tidak berkesempatan lagi belajar, tetapi hanya bekerja, secara routline dan monoton, maka cenderung untuk berada pada titik jenuh tersebut dan tidak berkembang lagi (garis b). namun bagi mereka yang terus berusaha belajar dan mengumuli perkembangan informasi-informasi mutakhir, perkembangan itu dapat terjadi meskipun hanya bersifat perluasan atau pendalaman (garis c).
Beberapa Model Pentahapan (Stages) Perkembangan Perilaku dan Pribadi dengan Karakteristiknya
Perkembangan berlangsung secara bertahap, dalam arti:
(a) bahwa perubahan yang terjadi bersifat maju meningkat dan atau mendalam dan/atau meluas, baik secara kuantitatif maupun kualitatif (prinsip progresif);
(b) bahwa perunahan yang terjadi antarbagian dan/atau fungsi organisme terdapat interdepedensi sebagai kesatuan integral yang harmonis (prineip sistematik);
(c) bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan dan berurutan dan tidak secara kebetulan dan meloncat-loncat (prinsip berkesinambungan).
Memperhatikan kompleksitas dari sifat perkembangan perilaku dan pribadi individu itu, maka untuk keperluan studi yang saksama, para ahli telah mencoba mengembangkan model pentahapan (stages) mengenai proses perkembangan tersebut sehingga memungkinkan pilihan focus observasi pada aspek atau fase tertentu baik secara longitudinal maupun cross sectional. Beberapa contoh model tersebut antara lain dikembangkan oleh:
(a) Aristoteles (384-233 SM)
Ia membagi masa perkembangan individu sampai menginjak sewasa dalam tiga septima berdasarkan perubahan cirri fisik tertentu.
|
Nama Tahapan |
Waktu |
Idikator |
|
(1) masa kanak-kanak (2) masa anak sekolah (3) masa remaja |
0;0 – 7;0 7;0 – 14,;0 14;0 – 21;0 |
Pergantian gigi Gejala pubertas (cirri-ciri primer dan sekunder) |
(b) Hurlock (1952)
Ia membagi fase-fase perkembangan individu secara lengkap sebagai berikut.
|
Nama Tahapan |
Waktu |
Indikator |
|
(1) prenatal (2) infacy (3) babyhood (4) childhood (5) adolescence
(6) adulthood (7) middle age (8) old age |
Conception – 280 days 0 – 10 to 14 days 2 weeks – 2 years 2 years – adolvence 13 (girls) – 21 years 14 (boys) – 21 years 21 -25 years 25 -30 years 30 years – death |
Perubahan-perubahan psikofisis |
(c) Piaget (1961)
Dengan menobservasi aspek perkembangan intelektual, Piaget mengembangkan model pentahapan perkembangan individu sebagai berikut.
|
Stage |
Age |
|
(1) Sensorimotor (2) Preoperational (a) Preconceptual (b) Intuitive (3) Concrete operations (4) Formal operations |
0 – 2 years 2 – 7 years 2 – 4 years 4 – 7 years 7 – 11 years 11 – 15 years |
(d) Erikson (1963)
Ia mengamati beberapa segi perkembangan kepribadian dan mengembankan model pentahapan perkembangan tanpa menunjukkan batas umur yang jelas atau tegas, namun menunjukkan komponen yang menonjol pada setiap fase perkembangan.
|
|
Developmential Stages |
Basic Components |
|
I. II. III. IV. V. VI. VII. VIII. |
Infacy Early childhood Preschool age Scholl age Adolescence Young adulthood Adulthood Senescence |
Trust vs mistrust Autonomy vs shame, doubt Iniative vs guilt Industry vs inferiority Identity vs identity confusion Intimacy vs isolation Generativity vs stagnation Ego integrity vs despair |
(e) Witherington (1952)
Mengobservasi penonjolan aspek perkembangan psikofisik yang selaras dengan jenjang praktek pendidikan, ia membagi tahap yang lamanya masing-masing tiga tahun perkembangan individu sampai menjelang dewasa.
|
Stages |
Indikator |
|
(1) 0;0 – 3;0 (2) 3;0 – 6;0 (3) 6;0 – 9;0 (4) 9;0 – 12;0 (5) 12;0 – 15;0 (6) 15;0 – 18;0 |
Perkembangan fisik yang pesat Perkembangan mental yang pesat Perkembangan social yang pesat Perkembangan sikap individualis (II) Awal penyusuaian social Awal pilihan kecendrungan pola hidup yang akan diikiuti sampai dewasa |
Beberapa Hukum (Principles) Perkembangan Perilaku dan Pribadi serta Implikasinya bagi Kehidupan.
|
Hukum |
Implikasi |
|
a. Perkembangan dipengaruhi oleh factor-faktor pembawaan, lingkungan, dan kematangan.
|
a. Pengembangan (penyusunan, pemilihan, penggunaan) materi, strategi, metodologi, sumber, evaluasi belajar-mengajar hendaknya memperhatikan ketiga factor tersebut. |
|
b. Proses perkembangan itu berlangsumg secara bertahap (profresif, sistematik, berkesinambungan). |
b. Program (kurikulum) belajar-mengajar disusun secara bertahap dan berjenjang: (1) Dari sederhana menuju kompleks (2) Dari mudah menuju sukar. (3) System belajar-mengajar diorganisasikan agar terlaksananya prinsip: (a) Mastery learning (belajar tuntas) (b) Continuous progress (maju berkelanjutan) |
|
c. Bagian – bagian dari fungsi-fungsi organisme mempunyai garis perkembangan dan tingkat kematangan masing-masing. Meskipun demikian, sebagai kesatuan organis dalam prosesnya terdapat korelasi dan bahkan kompensatoris antara yang satu dengan yang lainnnya. |
c. Sampai batas tertentu, program dan strategi belajar-mengajar seyogyanya dalam bentuk: (1) Correlated curriculum, atau (2) Broadfields, atau (3) Subject maiter oriented,(sampai batas tertentu pula |
|
d. Terdapat variasi dalam tempo dua irama perkembangan antar-individual dan kelompoktertentu (menurut latar belakang jenis, geografis, dan kultur). |
d. Program dan strategi-mengajar, sampai batas tertentu seyogyanya diorganisasikan agar memungkingkan belajar secara individual disamping secarakelompok (misalnya, dengan system pengajaran modul). |
|
e. Proses perkembangan itu pada taraf awalnya bersifat diferensial dan pada akhirnya lebih bersifat integrasi antarbagian dan fungsi organisme. |
e. Program dan strategi belajar-mengajar seyogyanya diorganisasikan agar memungkinkan proses yang bersifat : (1) Deduktif – Induktif (2) Analisis – Sintesis (3) Global –Spesifik – Global |
|
f. Dalam batas-batas masa peka, perkembangan dapat dipercepat atau diperlambat oleh kondisi lingkungan. |
f. Program dan strategi belajar-mengajar seyogyanya dikembangkan dan diorganisasikan perlakuan (intervensi) yang dapat merangsang, mempercepat, dan menghindari ekses memperlambat laju perkembangan anak didik. |
|
g. Laju perkembangan anak berlangsung lebih pesat pada periode kanak-kanak dari periode-periode berikutnya. |
g. Lingkungan hidup dan pendidikan anak-anak (TK) sangat penting untuk memperkaya pengalaman dan mempercepat laju perkembangannya. |
ini tidak ada daftar pustakanya ya..
boleh minta dapusnya tidak ??? terima asih sebelumnya..
kenapa ya hampir setiap tulisan oleh penulis tidak mencantumkan daftar pustakanya. Padahal kan dapat berguna bagi penulis yang menggunakan refrensi tulisan ini.